{"id":5093,"date":"2017-09-21T16:50:41","date_gmt":"2017-09-21T14:50:41","guid":{"rendered":"https:\/\/ppiswedia.com\/masakini\/?p=5093"},"modified":"2017-09-21T16:50:41","modified_gmt":"2017-09-21T14:50:41","slug":"pelajaran-dari-akhir-pekan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/pelajaran-dari-akhir-pekan\/","title":{"rendered":"Pelajaran dari Akhir Pekan"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_5112\" aria-describedby=\"caption-attachment-5112\" style=\"width: 363px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5112\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Mahasiswa-menyusuri-jembatan-menuju-kampus-World-Maritime-University-di-balik-kabut_Hafidz-Novalsyah-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"363\" height=\"363\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Mahasiswa-menyusuri-jembatan-menuju-kampus-World-Maritime-University-di-balik-kabut_Hafidz-Novalsyah-300x300.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Mahasiswa-menyusuri-jembatan-menuju-kampus-World-Maritime-University-di-balik-kabut_Hafidz-Novalsyah-150x150.jpg 150w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Mahasiswa-menyusuri-jembatan-menuju-kampus-World-Maritime-University-di-balik-kabut_Hafidz-Novalsyah-768x768.jpg 768w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Mahasiswa-menyusuri-jembatan-menuju-kampus-World-Maritime-University-di-balik-kabut_Hafidz-Novalsyah-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Mahasiswa-menyusuri-jembatan-menuju-kampus-World-Maritime-University-di-balik-kabut_Hafidz-Novalsyah-100x100.jpg 100w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Mahasiswa-menyusuri-jembatan-menuju-kampus-World-Maritime-University-di-balik-kabut_Hafidz-Novalsyah.jpg 1896w\" sizes=\"(max-width: 363px) 100vw, 363px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5112\" class=\"wp-caption-text\">Mahasiswa menyusuri jembatan menuju World Maritime University di dalam kabut (Foto oleh <a href=\"http:\/\/instagram.com\/hafidznovalsyah\">@hafidznovalsyah<\/a>)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Musim gugur telah tiba di Sk\u00e5ne, selatan Swedia. Penandanya mulai nyata. Dedaunan mulai layu dan menguning karena dingin. Kemudian hujan membuatnya berguguran ke jalanan yang basah. Jalan mobil, jalan sepeda, jalan orang, jalan tikus, semua basah tanpa pandang bulu. Bulu di kuduk penopang kepala mahasiswa-mahasiswa yang kurang tidur pun ikut basah. Biasanya terjadi pada mereka yang masih ngeyel kepada teknologi, termasuk saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal setiap malam sudah bertanya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Siri, how&#8217;s the weather tomorrow?&#8221;<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5122 aligncenter\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Tech-savvy-life_Siri-577x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"533\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Tech-savvy-life_Siri-577x1024.jpg 577w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Tech-savvy-life_Siri-169x300.jpg 169w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Tech-savvy-life_Siri.jpg 640w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Don&#8217;t forget your raincoat, Hafidz&#8230;&#8221;, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">jawabnya sambil menunjukkan temperatur dan ramalan cuaca.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada ungkapan di Swedia: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">There is no bad weather, only bad clothing.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Dari Yahoo! Weather! jadi tahu mau pakai jaket yang mana. Dari aplikasi Sk\u00e5netrafiken dan Google Maps jadi tahu mau &#8216;lewat mana&#8217;, &#8216;berapa lama&#8217;, &#8216;naik apa&#8217;, dan &#8216;bayar berapa&#8217;. Perihal &#8216;sama siapa&#8217; yang biasanya jadi problema pun bisa diselesaikan dengan aplikasi&#8230;. Whatsapp hehe. Sampai urusan duit (bank dan kurs), musik, bahasa, tempat makan, mencari barang bekas-keren-pakai, hingga apartemen biasa dikerjakan pakai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">apps<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Paling krusial tentunya membiasakan diri pada perkuliahan yang ditunjang berbagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">web-based productivity apps, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mulai dari cek jadwal, mengerjakan tugas kelompok dan berbagi materi secara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cloud-based<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, hingga yang mendukung pengerjaan riset secara efektif, serta menyusun presentasi yang ciamik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah ditugaskan oleh kantor saya untuk belajar di World Maritime University (WMU), saya tidak hanya mencari tahu apa bisa Nusantara jadi Poros Maritim. Tetapi juga merevolusi mental saya untuk jadi lebih <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tech-savvy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> alias mengoptimalkan teknologi untuk mempermudah urusan hidup sehari-hari saat tinggal di kota Malm\u00f6 yang punya 4 musim (Musim semi, panas, gugur, dan dingin. Musim buah-buahan tidak termasuk).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Hari Raya Padat Gizi<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada Hari Raya Idul Adha lalu, saya dan mantan pacar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/taniailyas\/\">@taniailyas<\/a>\u00a0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">serta putri kami, Alya, shalat di Malm\u00f6 Mosque-Islamic Center dengan sahabat-sahabat mahasiswa Indonesia. Di sana kami berbaur dengan seribuan jamaah dari berbagai bangsa. Gaya berpakaian yang berbeda, bahasa yang berbeda, warna kulit yang berbeda, cara wudhu ada yang berbeda, dan detil gerakan solat yang sedikit berbeda. Tapi saya merasa nyaman, karena selain arah sujud dan kalimat takbir, kami semua mengamalkan ajaran kebaikan yang sama: saling menghormati.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hari itu cukup padat gizi. Sekembalinya dari masjid, saya kuliah. Tak sampai hati untuk abstain menikmati ilmu dari Prof. Gerhardt. Di usianya yang ke-72 beliau terbang belasan jam dari New York, AS, untuk mengajar. Kemudian kami makan siang di Restoran Salt &amp; Brygga di kawasan marina Vastra Hamnen, yang direkomendasikan untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Swedish signature dish: Shrimp sandwich. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan saat itu Tania sedang menulis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">travel article <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tentang Malm\u00f6 untuk blog inspiratif, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"http:\/\/www.livingloving.net\/2017\/travel\/one-day-in\/one-day-in-malmo\/\">LivingLoving.net<\/a>\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Syahdan sore harinya, kami BBQ-an bersama beberapa keluarga mahasiswa muslim WMU lainnya. Ada yang dari Mesir, Pakistan, Irak, dan Yordania. Mereka membawa serta istri dan anak-anaknya. Beberapa kawan yang tidak bersama keluarga juga turut hadir. Kebetulan saya tinggal di apartemen yang sama dengan penggagas acara BBQ ini, yakni keluarga Yaseer Bayoumy dari Mesir dan Zeeshan Baig dari Pakistan. Karena membawa serta anak selama studi, kami tidak bisa tinggal di asrama kampus. Namun kami bersyukur karena saat sibuk kuliah, istri dan anak-anak kami bisa melakukan berbagai kegiatan bersama. Saling mengantar makanan dan kudapan khas negara masing-masing sudah menjadi kebiasaan. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Alya pun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">enjoy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi satu-satunya putri di antara 4 putra Yaseer dan 2 putra Zeeshan. Kami juga saling bertukar trik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">parenting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, selain juga mengadopsi sebagian metode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Scandinavian parenting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang secara kolektif sangat memahami pentingnya generasi penerus bangsa dan menjadi negara yang &#8216;ramah anak&#8217;. Saya pribadi memilih mengajak serta keluarga karena ingin membagi pengalaman merantau ini bersama mereka. Saya akan lebih belajar dari pengalaman, jika orang terdekat saya juga merasakan pengalaman itu. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Not easy, but totally worth it.<\/span><\/i><\/p>\n<figure id=\"attachment_5114\" aria-describedby=\"caption-attachment-5114\" style=\"width: 516px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5114\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Para-mahasiswa-WMU-berpose-bersama-keluarga-usai-BBQ-Idul-Adha-di-Pildammsparken-@hafidznovalsyah-_-Khaled-Hussein-for-center-left-photo_Hafidz-Novalsyah-1024x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"516\" height=\"516\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Para-mahasiswa-WMU-berpose-bersama-keluarga-usai-BBQ-Idul-Adha-di-Pildammsparken-@hafidznovalsyah-_-Khaled-Hussein-for-center-left-photo_Hafidz-Novalsyah-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Para-mahasiswa-WMU-berpose-bersama-keluarga-usai-BBQ-Idul-Adha-di-Pildammsparken-@hafidznovalsyah-_-Khaled-Hussein-for-center-left-photo_Hafidz-Novalsyah-150x150.jpg 150w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Para-mahasiswa-WMU-berpose-bersama-keluarga-usai-BBQ-Idul-Adha-di-Pildammsparken-@hafidznovalsyah-_-Khaled-Hussein-for-center-left-photo_Hafidz-Novalsyah-300x300.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Para-mahasiswa-WMU-berpose-bersama-keluarga-usai-BBQ-Idul-Adha-di-Pildammsparken-@hafidznovalsyah-_-Khaled-Hussein-for-center-left-photo_Hafidz-Novalsyah-768x768.jpg 768w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Para-mahasiswa-WMU-berpose-bersama-keluarga-usai-BBQ-Idul-Adha-di-Pildammsparken-@hafidznovalsyah-_-Khaled-Hussein-for-center-left-photo_Hafidz-Novalsyah-100x100.jpg 100w\" sizes=\"(max-width: 516px) 100vw, 516px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5114\" class=\"wp-caption-text\">Para mahasiswa WMU berpose bersama keluarga usai BBQ Idul Adha di Pildammsparken (Foto oleh <a href=\"http:\/\/instagram.com\/hafidznovalsyah\">@hafidznovalsyah<\/a> dan Khaled Hussein)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Saat BBQ anak-anak berlarian bermain bola dan aneka permainan anak yang jadi fasilitas publik di taman. Sambil menunggu daging sapi dan ayam yang masih dipanggang, Alya sudah mencuri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">start<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan hidangan &#8216;pembuka&#8217; nan berat: nasi briyani beraroma rempah yang kuat masakan istri Zeeshan, Zahra. Istri Yaseer, Marwa, juga membagikan minuman segar khas Mesir, sari Asam Jawa (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tamarindus indica<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Unik ya, Asam Jawa yang dibeli di Swedia dan diolah jadi minuman a la Mesir. Sama seperti kuliner yang selama berabad-abad sudah menjadi rekam jejak pertukaran budaya dalam peradaban dunia. Dengan belajar ilmu kemaritiman, kami kini menjadi bagian dari komunitas global. Di mana lautan menjadi samudera kesempatan untuk mempersatukan kepentingan berbagai bangsa.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kami BBQ-an dan bercengkarama bersama istri (kebetulan saja yang jadi mahasiswa itu para suami) dan anak-anak di salah satu taman kota, Pildammsparken. Di kota terbesar ketiga di Swedia ini kebutuhan ruang publik sangat tercukupi. Membawa anak dan anjing kesayangan menikmati udara di luar rumah menjadi rutinitas yang jamak. Instalasi seni juga banyak terlihat menghiasi di sudut-sudut kota. Termasuk sisi tua kota dengan arsitektur kuno dan jalanan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cobblestone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berkelindan apik dengan butik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brand<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lokal dan ritel <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ready-to-wear<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> internasional. Cara cerdas pemerintah kota yang mengintegrasikan konservasi kota tua dengan menyulapnya menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">shopping street<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Jadi bagi warga Malm\u00f6, taman dan ruang terbuka menjadi pilihan utama untuk bertamasya. Bukan di mall. Apalagi di jembatan sambil nonton kebakaran.<\/span><\/p>\n<p><b>Syakwasangka di Swedish Fika<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Angkatan saya memecahkan rekor sebagai mahasiswa terbanyak dalam sejarah WMU, yakni dengan 130 mahasiswa dari 49 negara. Keberadaan WMU sebagai institusi di bawah naungan PBB cukup signifikan di Malm\u00f6. Karena menjadi kontributor keberagaman bagi kota yang ditinggali oleh penduduk yang merepresentasikan hampir 180 negara di dunia ini. Tingginya angka keberagaman tersebut juga akibat dari santernya gelombang pengungsi yang datang.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_5113\" aria-describedby=\"caption-attachment-5113\" style=\"width: 533px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5113\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Disatukan-oleh-kemaritiman-mahasiswa-WMU-datang-dari-berbagai-negara-di-dunia.-Foto-diambil-saat-field-study-di-Port-of-Athens-Yunani_Hafidz-Novalsyah-1024x682.jpg\" alt=\"\" width=\"533\" height=\"355\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Disatukan-oleh-kemaritiman-mahasiswa-WMU-datang-dari-berbagai-negara-di-dunia.-Foto-diambil-saat-field-study-di-Port-of-Athens-Yunani_Hafidz-Novalsyah-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Disatukan-oleh-kemaritiman-mahasiswa-WMU-datang-dari-berbagai-negara-di-dunia.-Foto-diambil-saat-field-study-di-Port-of-Athens-Yunani_Hafidz-Novalsyah-300x200.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Disatukan-oleh-kemaritiman-mahasiswa-WMU-datang-dari-berbagai-negara-di-dunia.-Foto-diambil-saat-field-study-di-Port-of-Athens-Yunani_Hafidz-Novalsyah-768x512.jpg 768w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Foto-kolase-Disatukan-oleh-kemaritiman-mahasiswa-WMU-datang-dari-berbagai-negara-di-dunia.-Foto-diambil-saat-field-study-di-Port-of-Athens-Yunani_Hafidz-Novalsyah.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 533px) 100vw, 533px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5113\" class=\"wp-caption-text\">Disatukan oleh kemaritiman, mahasiswa WMU datang dari berbagai negara di dunia. Foto diambil saat field study di Port of Athens, Yunani (Foto oleh <a href=\"http:\/\/instagram.com\/hafidznovalsyah\">@hafidznovalsyah<\/a>)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa di WMU diberi kesempatan untuk mengikuti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">host-family program<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau semacam keluarga angkat dari warga lokal. Tujuannya untuk mendorong pertukaran pemahaman dan pengalaman antara penduduk dan pendatang. Kebetulan saya mendapat &#8216;ibu angkat&#8217; seorang politisi yang aktif mengritisi kebijakan pemerintahnya terkait isu pengungsi. Dengan membaca pandangan-pandangannya di media sosial, tak jarang saya mengernyitkan dahi tanda tak setuju. Tapi sering pula setelah beberapa saat saya dapat memahami perspektifnya. Apalagi sebagai lansia yang turut membangun negaranya hingga semaju sekarang dan kini harus berbagi manfaat pajak serta daya dukung kota dengan para pendatang. Karena isu pengungsi yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">under spotlight <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sering melibatkan pengungsi asal Timur Tengah. Pernyataan politik beliau kadang membuat saya khawatir tentang bagaimana saat ia berjumpa dengan istri saya yang memakai jilbab khas kebanyakan muslimah Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">H+1 Idul Adha, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">host family<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saya mengundang keluarga kami untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fika<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (sebutan orang Swedia untuk rehat dan berkopi bersama). Kami diajak ke sebuah kedai di tengah kota, yang belum lama dibuka oleh putra mereka. Ini akan menjadi perjumpaan yang pertama. Jujur, kami sedikit gundah. Kami berprasangka.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Suapan demi suapan lembut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cheese cake <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang saya makan rasanya turut meluluhkan syakwasangka yang semula ada. Tania dan Alya sangat nyaman. Kami semua bertukar obrolan dan candaan seru. Gula dari kue yang Alya baru makan agaknya langsung bereaksi. Ia beraksi menghibur seantero pengunjung resto <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">by her gibberish speaking<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hehe&#8230; <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Host family<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memberi saya kado berupa liontin martil khas Viking. Tampak senada dengan yang mereka pakai. Kami pun berfoto bersama.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sabtu itu kami masih punya satu janji silaturahmi lagi yang perlu ditepati. Seorang diaspora Indonesia yang kini tinggal di Swedia berbaik hati mengundang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">house warming <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di apartemen barunya. Saya ada cerita latar yang sedikit <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">awkward<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan beliau. Saat kegaduhan jagad sosial media Nusantara terjadi akibat pilkada DKI Jakarta, beliau meng-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">add<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saya di Facebook. Saat itu kami memiliki pandangan yang berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, buat saya media sosial merupakan buku telepon digital dengan informasi yang lebih beragam dan aktual<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. What happens in social media, stays in social media.\u00a0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya, saat kami bertemu di apartemennya yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">spacy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cozy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di pinggiran kota, semua berlangsung hangat. Tak ada canggung. Kami jadi ada kesempatan untuk lebih saling mengenal, seperti hakikat dari adanya silaturahmi itu sendiri. Hal ini mengonfirmasi pesan bijak: Jangan baper di medsos. Meminimalisir prasangka sama dengan menjaga hati.\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_5116\" aria-describedby=\"caption-attachment-5116\" style=\"width: 488px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5116 \" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Jamuan-makan-siang-bersama-diaspora-dan-mahasiswa-Indonesia-di-Lund_Hafidz-Novalsyah-1024x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"488\" height=\"488\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Jamuan-makan-siang-bersama-diaspora-dan-mahasiswa-Indonesia-di-Lund_Hafidz-Novalsyah-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Jamuan-makan-siang-bersama-diaspora-dan-mahasiswa-Indonesia-di-Lund_Hafidz-Novalsyah-150x150.jpg 150w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Jamuan-makan-siang-bersama-diaspora-dan-mahasiswa-Indonesia-di-Lund_Hafidz-Novalsyah-300x300.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Jamuan-makan-siang-bersama-diaspora-dan-mahasiswa-Indonesia-di-Lund_Hafidz-Novalsyah-768x768.jpg 768w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Jamuan-makan-siang-bersama-diaspora-dan-mahasiswa-Indonesia-di-Lund_Hafidz-Novalsyah-100x100.jpg 100w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Jamuan-makan-siang-bersama-diaspora-dan-mahasiswa-Indonesia-di-Lund_Hafidz-Novalsyah.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 488px) 100vw, 488px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5116\" class=\"wp-caption-text\">Jamuan makan siang bersama diaspora dan mahasiswa Indonesia di Lund (Foto oleh <a href=\"http:\/\/instagram.com\/hafidznovalsyah\">@hafidznovalsyah<\/a>)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingat betul. Malam itu sebelum akhir pekan kami usai, Tania mengungkapkan hal menarik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 30px;\"><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Weekend<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini &#8216;enak&#8217; banget ya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">alhamdulillah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,&#8221; celetuknya tiba-tiba.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 30px;\"><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Menurutmu kenapa?&#8221;, tanya saya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 30px;\"><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Karena kita membicarakan hal-hal baik dengan banyak orang berbeda, sepanjang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">weekend<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini. Sama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">host-family<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kita bicara soal perbedaan pandangan tentang pernikahan di budaya mereka dan kita. Di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">house warming<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kita tukar pengalaman soal suka-dukanya cari apartemen di sini (Malm\u00f6),&#8221; ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 30px;\"><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kita juga jadi tahu apa rahasianya Yaseer dan Marwa tampak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">enjoy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sekali merawat keempat anaknya yang superaktif (tentunya di tengah masa adaptasi tempat tinggal, tugas-tugas kuliah, dan kecermatan dalam mengelola dana beasiswa untuk satu keluarga). Mereka tampak ringan saat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dealing with stress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,&#8221; saya menambahkan. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left; padding-left: 30px;\"><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Karena mereka melihat banyak hal dari sisi positifnya..,&#8221; ujar kami bersama.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya mengangguk dan k<span style=\"font-weight: 400;\">ami berdua tersenyum.\u00a0Belajar dari dua prasangka itu membuat saya lebih bersyukur, ternyata niat tulus tidak bisa sirna hanya karena salah duga. Saat bertatap muka dan bertukar cerita, kita semua bahagia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menyadari dan sepenuhnya setuju. Berbaik sangka mungkin menjadi tips-yang-tak-tersampaikan, terutama untuk mereka yang sedang berada di tengah-tengah lingkungan yang beragam. Termasuk mahasiswa dalam tugas belajar di luar negeri. Terpenting untuk kaum mayoritas, karena bisa jadi cerminan diri agar tidak bertindak sewenang-wenang. Tak kalah penting, untuk para minoritas sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">survival trick <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">agar tenang menjalani hari. Dengan berbaik sangka, kita mengungkapkan hal-hal baik dan berharap hal-hal baik juga datang menyapa kita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">self-reflection<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk saya pribadi, kesempatan belajar di negara maju merupakan anugerah. Berprasangka baik merupakan cara yang paling <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">simple <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">untuk mensyukurinya. Membuat proses mencari pengalaman di rantau menjadi lebih fokus, sehingga terasa lebih ringan. Paling bahaya yaitu jika kita tak sadar, saat kita menilai orang lain untuk membuat diri menjadi serasa lebih baik. Dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">networking <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di komunitas global, aspek penting yang perlu dicitrakan yaitu sebagai orang yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fair<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Karena sifat ini merefleksikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">reliability<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Aspek penting dalam kerja sama di tengah peradaban masa depan yang semakin kolaboratif. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nantinya kita semua pemuda-pemudi Indonesia, baik yang sekolah maupun yang ga sekolah, semua merupakan duta bangsa di komunitas global. Kita musti paham betul, apa yang perlu didiskusikan dan apa yang tidak perlu diributkan. Swedia sudah mulai mengimpor sampah sebagai sumber energi untuk penghangat perumahan. Indonesia tidak boleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stuck<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masih mengutak-atik dasar negara. Ini bukan pernyataan bernada inferior atau sinikal bagi mereka yang tidak baper. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini motivasi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Finally, another afternoon well-spent. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Perasaan yang selalu didamba untuk dirasa pada hari Minggu malam, sebagai bekal semangat memulai awal pekan. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum malam usai, di sudut apartemen kami terdengar siul merdu Klaus Meine di awal &#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Wind of Change<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;. Lagu \u00a0legendaris band Scorpions yang oleh situs <\/span><a href=\"http:\/\/www.rollingstone.com\/music\/features\/scorpions-wind-of-change-the-oral-history-of-1990s-epic-power-ballad-20150902\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">rollingstone.com<\/span><\/i><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">disebut sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;soundtrack of sorts to a political and <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">cultural revolution<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Take me to the magic of the moment<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">On a glory night<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Where the children of tomorrow dream away<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">In the wind of change<\/span><\/i><\/p>\n<figure id=\"attachment_5115\" aria-describedby=\"caption-attachment-5115\" style=\"width: 521px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5115\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Instalasi-suatu-acara-di-Mollevangen_Hafidz-Novalsyah-1024x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"521\" height=\"521\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Instalasi-suatu-acara-di-Mollevangen_Hafidz-Novalsyah-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Instalasi-suatu-acara-di-Mollevangen_Hafidz-Novalsyah-150x150.jpg 150w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Instalasi-suatu-acara-di-Mollevangen_Hafidz-Novalsyah-300x300.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Instalasi-suatu-acara-di-Mollevangen_Hafidz-Novalsyah-768x768.jpg 768w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/Instalasi-suatu-acara-di-Mollevangen_Hafidz-Novalsyah-100x100.jpg 100w\" sizes=\"(max-width: 521px) 100vw, 521px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5115\" class=\"wp-caption-text\">Instalasi suatu acara di Mollevangen (Foto oleh <a href=\"http:\/\/instagram.com\/hafidznovalsyah\">@hafidznovalsyah<\/a>)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bergumam sembari melihat Alya yang sudah terlelap. Dari setiap perubahan, jika bukan buat kita. Itu demi mereka.<\/span><\/p>\n<pre style=\"text-align: left;\"><strong><span style=\"text-decoration: underline;\">Oleh:<\/span><\/strong>\nHafidz Novalsyah - Malm\u00f6\nMaster Programme in <span style=\"font-weight: 400;\">Shipping Management and Logistics<\/span>, \nWorld Maritime University<\/pre>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Musim gugur telah tiba di Sk\u00e5ne, selatan Swedia. Penandanya mulai nyata. Dedaunan mulai layu dan menguning karena dingin. Kemudian hujan membuatnya berguguran ke jalanan yang basah. Jalan mobil, jalan sepeda,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5112,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[6,7,8],"tags":[33,72,78],"class_list":["post-5093","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lund","category-mahasiswa","category-malmo","tag-belajar-di-swedia","tag-kultur","tag-mahasiswa"],"views":422,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5093"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5093"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5093\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5112"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5093"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5093"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5093"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}