{"id":5096,"date":"2017-09-25T21:35:44","date_gmt":"2017-09-25T19:35:44","guid":{"rendered":"https:\/\/ppiswedia.com\/masakini\/?p=5096"},"modified":"2023-12-13T11:45:20","modified_gmt":"2023-12-13T10:45:20","slug":"study-trip-ke-hammarby-sjostad","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/study-trip-ke-hammarby-sjostad\/","title":{"rendered":"Study trip ke Hammarby Sj\u00f6stad"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu hal yang menarik dari kuliah di KTH adalah adanya program <em>study trip<\/em> ke lapangan atau ke perusahaan. Karena saya mengambil mata kuliah <em>Smart Cities and Climate Mitigation Strategies<\/em>, saya berkesempatan mengeksplore Hammarby Sj\u00f6stad, percontohan <em>sustainable urban area<\/em> di Stockholm.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Study trip<\/em> berlangsung selama empat jam dimana saya dan teman-teman mengeksplore lima bagian dari Hammarby Sj\u00f6stad dengan jalan kaki kurang lebih 6 km.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/ppiswedia.com\/beta\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_161934.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5097 size-large\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_161934-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"405\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_161934-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_161934-300x169.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_161934-768x432.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>#1. The Ecovillage<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/ppiswedia.com\/beta\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_134049.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5098 size-large\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_134049-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"405\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_134049-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_134049-300x169.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_134049-768x432.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Desa yang merupakan bagian dari\u00a0Hammarby Sj\u00f6stad ini dibangun dengan konsep <em>bottom-up approach<\/em> dimana warga yang tertarik dengan <em>sustainable living<\/em> mengajukan diri ke pemerintah dan memberikan saran dan masukan untuk mendirikan <em>ecovillage<\/em> di Stockholm. Prinsip <em>ecovillage<\/em> ini adalah kehidupan manusia yang selaras dengan alam dengan semaksimal mungkin menjaga kelestarian alam. Penduduk <em>ecovillage<\/em> memakai <em>renewable energy<\/em> yaitu solar panel dan biomass. Walau begitu, <em>renewable energy<\/em> belum bisa memasok 100% kebutuhan ecovillage sehingga ecovillage masih terhubung dengan jaringan listrik yang ada.<\/p>\n<p><strong>#2. The Nature Reserve<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/ppiswedia.com\/beta\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_154545.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5099 size-large\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_154545-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"405\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_154545-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_154545-300x169.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_154545-768x432.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kami melanjutkan perjalanan kami ke salah satu <em>nature reserve<\/em> yang terletak di sebelah e<em>covillage<\/em>. Kami dengan sangat mudah dapat memasuki kawasan hutan berkat peraturan dari <em>City of Stockholm<\/em> dan <em>Government of Sweden<\/em> yang mengatur bahwa warga Stockholm harus dapat mengakses hutan dengan jarak maksimal 300 meter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>National park<\/em> dan\u00a0<em>nature reserve<\/em> terletak di dekat atau bahkan di dalam kota sebagai upaya menjaga keanekaragaman hayati. Selain itu, keduanya memiliki fungsi sosial yaitu fungsi rekreasi, edukasi, dan tempat interaksi antar warga. Hal lain yang menarik adalah kita boleh memetik buah beri yang ada di hutan dan bahkan tinggal maksimal 1 malam. Hak menjelajah alam ini diiringi pula dengan tanggung jawab kolektif untuk menjaga alam.<\/p>\n<p><strong>#3. The Marcus Church<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gereja Marcus ini unik karena desainnya tidak seperti desain gereja pada umumnya. Tidak ada menara dan dinding gereja terbuat dari bata dan lantainya terbuat dari batu pualam hitam. Gereja yang dibangun pada tahun 1960an ini ternyata didesain tidak biasa karena desainer pada zaman itu bosan dengan desain yang hampir serupa dan ingin membuat desain baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal unik lainnya adalah terdapat sarang lebah di samping gereja yang lagi-lagi menjadi salah satu upaya menjaga keanekaragaman hayati di Swedia.<\/p>\n<p><strong>#4. Allotment Garden<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_5101\" aria-describedby=\"caption-attachment-5101\" style=\"width: 720px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/ppiswedia.com\/beta\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/communitygarden-brookspark-SF-Kevin-Krejci-CC-BY-2.0.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5101 size-large\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/communitygarden-brookspark-SF-Kevin-Krejci-CC-BY-2.0-1024x437.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"307\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/communitygarden-brookspark-SF-Kevin-Krejci-CC-BY-2.0-1024x437.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/communitygarden-brookspark-SF-Kevin-Krejci-CC-BY-2.0-300x128.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/communitygarden-brookspark-SF-Kevin-Krejci-CC-BY-2.0-768x328.jpg 768w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/communitygarden-brookspark-SF-Kevin-Krejci-CC-BY-2.0.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-5101\" class=\"wp-caption-text\">Source: www.stockholmresilience.org<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Allotment garden<\/em> sudah menjadi bagian dari budaya Swedia sejak tahun 1900an yang diinisiasi dengan tujuan membantu warga tidak mampu untuk menanam dan memanen hasil tanaman sendiri untuk kemudian dipakai sebagai bahan makanan. Sekarang <em>allotment garden<\/em> bertransformasi menjadi lahan ekspresi diri dan tempat istirahat sejenak di tengah hiruk pikuk kota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kami melalui <em>allotment garden<\/em> di antara Gereja Marcus dan Eco-district. Rata-rata <em>allotment garden<\/em> berukuran 3 kali 3 meter walau ada juga yang lebih kecil dan besar. Tanamannya juga beraneka ragam, mulai dari tanaman menjalar, kentang, hingga bunga musim panas. Sekali lagi, <em>allotment garden<\/em> ini adalah salah satu upaya menjaga keanekaragaman hayati sekali sebagai wadah ekpresi dan kreasi warga.<\/p>\n<p><strong>#5. The Eco-District<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/ppiswedia.com\/beta\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_162647.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-5102 size-large\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_162647-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"405\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_162647-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_162647-300x169.jpg 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/20170831_162647-768x432.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamipun sampai di titik akhir perjalanan yaitu <em>Eco-district<\/em> bernama Hammarby Sj\u00f6stad yang berarti <em>Hammarby Lake City<\/em> karena terletak di sebelah danau. Pembangunan Hammarby Sj\u00f6stad menerapkan konsep <em>eco-modernism concept <\/em>yang mengintegrasikan teknologi dengan <em>sustainability concept<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sepanjang melewati daerah apartemen dan pinggiran danau, saya dengan mudah menemukan <em>outdoor par<\/em>k dan <em>open stormwater canal<\/em> yang berfungsi sebagai area rekreasi dan manajemen pengolahan air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal lain yang unik adalah apartemen di Hammarby Sj\u00f6stad memiliki tempat sampah dengan sistem vakum dimana sampah yang kita buang akan terhisap langsung menuju Incineration Plant. Energi yang dihasilkan dari <em>Incineration Plant<\/em> disalurkan ke jaringan listrik untuk didistribusikan kembali. Ini adalah satu satu upaya Stockholm menciptakan <em>circular way of living<\/em>.<\/p>\n<pre><span style=\"text-decoration: underline;\"><strong>Oleh:<\/strong><\/span>\nTiti Sari Nurul Rachmawati - Stockholm\nEnvironmental Engineering and Sustainable Infrastructure \nMaster Programme - KTH Royal Institute of Technology<\/pre>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu hal yang menarik dari kuliah di KTH adalah adanya program study trip ke lapangan atau ke perusahaan. Karena saya mengambil mata kuliah Smart Cities and Climate Mitigation Strategies,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":5097,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[3,7,10],"tags":[],"class_list":["post-5096","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kegiatan","category-mahasiswa","category-stockholm"],"views":370,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5096"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5096"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5096\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8270,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5096\/revisions\/8270"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5097"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5096"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5096"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5096"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}