{"id":5325,"date":"2017-11-12T15:08:19","date_gmt":"2017-11-12T14:08:19","guid":{"rendered":"https:\/\/ppiswedia.com\/masakini\/?p=5325"},"modified":"2023-12-13T11:37:32","modified_gmt":"2023-12-13T10:37:32","slug":"serba-serbi-sistem-ujian-di-universitas-universitas-swedia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/serba-serbi-sistem-ujian-di-universitas-universitas-swedia\/","title":{"rendered":"Serba-serbi Sistem Ujian di Universitas-universitas Swedia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Setelah memahami sistem perkuliahan Swedia di <a href=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/warna-warni-perkuliahan-di-europes-hotbed-of-innovation\/\">Warna-Warni Perkuliahan di Europe&#8217;s Hotbed of Innovation<\/a>, sekarang saatnya membahas sistem evaluasi belajar yang diterapkan universitas-universitas di Swedia untuk memastikan para mahasiswa memahami mata kuliah yang diberikan. Tidak hanya sistem belajarnya yang tidak monoton,\u00a0<em>examination\u00a0<\/em>di universitas-universitas di Swedia juga bervariasi.<\/p>\n<p><strong><em>Written Examination<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Uppsala University, ujian tertulis diselenggarakan di aula atau gedung khusus untuk ujian, bukan ruangan kelas yang umumnya dipakai sehari-hari untuk proses belajar-mengajar. Jenis ujian yang satu ini tentu tidak asing di Indonesia. Namun, ada yang berbeda di Swedia. Durasi ujian cukup panjang, berkisar antara 3-5 jam dalam satu kali ujian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cUjiannya lama banget. Banyak terdengar suara perut keroncongan karena kelaparan dong?\u201d<\/em>\u00a0Tenang, mahasiswa diperbolehkan membawa makanan-minuman dan meletakkannya di meja untuk dimakan selama ujian berlangsung. Jadi, tidak perlu khawatir kelaparan selama ujian. Umumnya, mahasiswa membawa makanan yang tidak terlalu beraroma dan tidak menimbulkan suara berisik saat dikunyah dan tidak mengganggu peserta ujian lainnya, seperti <em>sandwich, granola bar<\/em>, atau buah-buahan.<\/p>\n<p><strong><em>Take Home Examination<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mahasiswa akan diberikan pertanyaan atau kasus tertentu dan dipersilahkan untuk menggunakan berbagai sumber atau literatur dan harus di-<em>submit <\/em>secara <em>online<\/em> ke portal universitas dalam kurun waktu yang ditetapkan, misalnya dalam waktu 24-72 jam setelah soal diberikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jenis ujian ini terdengar gampang, tapi kenyataannya <em>take home examination<\/em>\u00a0justru bisa lebih menguras tenaga dan pikiran dibandingkan jenis ujian lainnya lho. Seringkali jawaban dari soal yang diberikan sangat challenging dan amat sulit dicari, walau sudah membaca berbagai sumber di Google.\u00a0Tak jarang mahasiswa yang harus merelakan banyak waktu tidur mereka dan memanfaatkan setiap detik yang diberikan dengan sangat baik untuk bisa menyelesaikan <em>take home exam<\/em> mereka.<\/p>\n<p><strong><em>Online Examination<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa mata kuliah juga menyelenggarakan ujian secara <em>online, <\/em>dimana mahasiswa diminta untuk membawa laptop, smartphone, atau tablet masing-masing untuk mengakses portal ujian melalui akun mahasiswa. Hasilnya pun bisa langsung dilihat saat ujian selesai.\u00a0Beberapa saat lalu, saya mengalami hal unik saat salah satu mata kuliah yang saya tempuh menetapkan\u00a0<em>online examination<\/em>. Mahasiswa diharuskan menjawab semua pertanyaan dengan benar dan diberikan 10 kali kesempatan <em>retake <\/em>saat itu juga. Mahasiswa juga diperbolehkan berdiskusi dengan mahasiswa lain. Apabila poin minimun tidak tercapai, maka mahasiswa dinyatakan gagal menempuh mata kuliah tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sistem ujian ini diterapkan bukan tanpa alasan yang tidak berarti. Saat <em>briefing<\/em>\u00a0soal online<em> examination<\/em>, koordinator mata kuliah tersebut mengatakan bahwa sistem ujian ini telah diuji coba di tahun sebelumnya. Terbukti juga bahwa dengan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berdiskusi di mata kuliah serta banyaknya kesempatan <em>retake<\/em> yang ditawarkan dan dilaksanakan saat itu juga membuat mahasiswa bisa belajar lebih efektif dan memahami konteks dari mata kuliah dengan lebih baik. Tentu peraturan ujian ini akan berbeda secara spesifik disesuaikan dengan mata kuliah, jurusan, dan universitas terkait.<\/p>\n<p><strong><em>Grading System<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika universitas di Indonesia menerapkan sistem penilaian dengan A, B, C, D, hingga E, berbeda halnya dengan universitas di Swedia. Pada umumnya, penilaian terbagi atas:<\/p>\n<ul>\n<li>VG (V\u00e4l godk\u00e4nd) \u2013 Pass with distinction<\/li>\n<li>G (Godk\u00e4nd) \u2013 Pass<\/li>\n<li>U \u2013 (Underk\u00e4nd) \u2013 Fail<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong><em>Retake<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gagal saat ujian? Universitas-universitas di Swedia memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang gagal saat ujian untuk memperbaiki nilai mereka melalui <em>retake exam<\/em>. Setiap universitas atau jurusan memberikan jumlah kesempatan <em>retake<\/em> yang berbeda-beda di tanggal yang telah ditetapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masih banyak lagi ragam jenis ujian yang diterapkan setiap mata kuliah, jurusan, dan universitas di Swedia. Pemilihan jenis ujian pun dipastikan merepresentasikan pemahaman mahasiswa dan telah disimulasi dan dievaluasi sebelumnya.\u00a0<em>Sweden, a country that always takes creativity to the next level, even in examination system. And, overall, Sweden education system never stops to amaze me!<\/em><\/p>\n<pre>Oleh:\nSekar Sedya Pangestika-Uppsala\nMaster Programme in Biomedicine, Uppsala University<\/pre>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah memahami sistem perkuliahan Swedia di Warna-Warni Perkuliahan di Europe&#8217;s Hotbed of Innovation, sekarang saatnya membahas sistem evaluasi belajar yang diterapkan universitas-universitas di Swedia untuk memastikan para mahasiswa memahami mata&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[4,14],"tags":[],"class_list":["post-5325","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kuliah","category-uppsala"],"views":585,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5325"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5325"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5325\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8266,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5325\/revisions\/8266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}