{"id":6832,"date":"2019-11-12T12:43:59","date_gmt":"2019-11-12T11:43:59","guid":{"rendered":"https:\/\/ppiswedia.com\/masakini\/?p=6832"},"modified":"2020-03-01T22:16:20","modified_gmt":"2020-03-01T21:16:20","slug":"perbandingan-kuliah-s2-di-prancis-irlandia-dan-swedia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/perbandingan-kuliah-s2-di-prancis-irlandia-dan-swedia\/","title":{"rendered":"Perbandingan Kuliah S2 di Prancis, Irlandia, dan Swedia,"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswi Erasmus Mundus Joint Master Degree (EMJMD) program, saya mendapatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">privilege<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk merasakan tinggal dan belajar di beberapa negara Eropa selama masa studi saya. Program ini mengharuskan saya untuk pindah ke negara Eropa yang berbeda setiap semesternya. Untuk program yang saya ambil, saya berkesempatan untuk merasakan kuliah di AgroParisTech, Prancis untuk semester pertama, kemudian pindah ke Technological University Dublin (TU Dublin), Irlandia untuk semester kedua, dan berlanjut di Lund University, Swedia untuk semester ketiga. Menariknya, ternyata setiap negara memiliki sistem edukasi yang cukup berbeda walaupun semuanya berada di benua Eropa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semester pertama terasa super hectic. Silabus kuliah di Prancis begitu padat, kuliah selalu 09-17 setiap harinya (Senin-Jumat). Sistem perkuliahan di Prancis, khususnya di kampus saya yang notabenenya adalah Institusi atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Grand Ecole<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (bukan Universitas), menekankan pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lectures<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">laboratory activities<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Bahkan di semester pertama ini, saya harus mengambil 10 mata kuliah berbeda dengan ECTS yang sangat kecil (1,5-3 ECTS\/mata kuliah). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Grading system<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang digunakan adalah 1-20, dimana minimal nilai yang harus didapat untuk lulus adalah 10 dan 20 adalah nilai yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">impossible<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk didapat, kecuali untuk mereka yang jenius. Saya merasa bahwa sistem edukasi di Prancis cukup <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">grade-oriented<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pressure<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> selama kuliah sangat tinggi, terutama aktivitas dalam kelas. Tidak ada kegiatan diluar kelas yang bisa saya ikuti karena padatnya aktivitas perkuliahan, bahkan seingat saya tidak banyak organisasi mahasiswa yang ada di AgroParisTech. Satu hal yang mungkin terkenal dari negara ini adalah pentingnya belajar Bahasa Prancis untuk bisa lancar berkomunikasi baik dengan civitas akademik maupun orang Prancis pada umumnya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_6836\" aria-describedby=\"caption-attachment-6836\" style=\"width: 4608px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6836 size-full\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20181105_143523.jpg\" alt=\"\" width=\"4608\" height=\"3456\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20181105_143523.jpg 4608w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20181105_143523-768x576.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 4608px) 100vw, 4608px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6836\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Kelas Bahasa Prancis yang wajib diambil<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbanding terbalik dengan system Pendidikan di Prancis yang sangat padat dan penuh dengan tekanan, Irlandia memiliki system Pendidikan yang sangat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">relaxed<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tipikal orang Irlandia yang sangat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">easygoing <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">friendly<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membuat masa-masa adaptasi terasa sangat menyenangkan (selain adaptasi Bahasa yang cukup memakan waktu karena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Irish accent<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sangat kental). Hal ini juga sangat terasa di kampus. Jadwal kuliah sangatlah santai dimana hanya ada 3 hari kuliah dengan beban kuliah yang tidak terasa melelahkan. Saya hanya mengambil 5 mata kuliah (5-10 ECTS\/mata kuliah) dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">group project-based<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dimana seluruh tugas yang diberikan adalah tugas kelompok, hampir tidak ada tugas individual. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Grading system<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang digunakan adalah 0-100%, dimana nilai minimal lulus adalah 40% yang menurut saya mudah untuk didapat. Saya merasa bahwa ritme belajar dan kehidupan pada umumnya di Irlandia sangatlah santai dan sangat banyak waktu luang yang saya miliki. Pada akhirnya, saya bisa aktif bergabung di klub Badminton selama saya berada di Irlandia. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">It was the most relaxing period of my master study!<\/span><\/i><\/p>\n<figure id=\"attachment_6833\" aria-describedby=\"caption-attachment-6833\" style=\"width: 3456px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6833 size-full\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20190508_151239-e1573558897246.jpg\" alt=\"\" width=\"3456\" height=\"4608\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6833\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Pameran produk tempeh burger yang dikembangkan selama semester 2<\/figcaption><\/figure>\n<figure id=\"attachment_6834\" aria-describedby=\"caption-attachment-6834\" style=\"width: 4608px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6834 size-full\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20190617_144745.jpg\" alt=\"\" width=\"4608\" height=\"3456\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20190617_144745.jpg 4608w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20190617_144745-768x576.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 4608px) 100vw, 4608px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6834\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 3. Tentunya tak lupa travelling menjelajahi alam Irlandia karena banyaknya waktu luang!<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lund University adalah destinasi kuliah saya selanjutnya dimana saya sudah sangat terkesan dengan sistem pendidikannya bahkan sebelum saya sampai disana. Hal ini sangat terasa dimulai dari mulai mengurus visa hingga mencari akomodasi. Semua sangat terorganisir dengan baik, bahkan rasanya adalah yang terbaik dibandingkan dengan kampus-kampus saya sebelumnya. Benar saja, segala hal terasa sangat rapi dan terorganisir sesampainya saya disini. Mulai dari penyambutan di bandara, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">introduction week<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, silabus kuliah, hingga proses adaptasi dengan kehidupan sehari-hari terasa begitu mudah dan teratur. Menjadi mahasiswa baru setiap semesternya membuat saya memahami pentingnya minggu-minggu pertama di awal semester dan saya merasakan kesiapan Lund University untuk menerima mahasiswa baru dan memulai kegiatan perkuliahan dengan sangat baik. Tak hanya itu, sistem perkuliahan yang sangat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">group project-oriented<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan begitu banyaknya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">guest lectures<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">study visits<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membuat kuliah disini terasa sangat mengasyikan dan tidak membosankan. Beban kuliah tidak ditekankan di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lecture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, namun lebih ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">independent study<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> melalui berbagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">project<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> besar yang diberikan. Saya mengambil 4 mata kuliah (7,5 ECTS\/mata kuliah) yang dibagi ke 2 periods. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Grading system <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang digunakan adalah 1-5, dimana 3 adalah nilai minimal untuk lulus. Satu hal yang cukup saya rasakan berbeda adalah tidak adanya tekanan untuk mendapat nilai bagus. Saya merasa bahwa sistem pendidikan disini lebih menekankan ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">overall understanding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dibandingkan dengan mendapat nilai tinggi.\u00a0 Budaya informal Swedia membuat saya merasa lebih mudah untuk bertanya ke dosen dan tidak pernah merasa sungkan untuk berinteraksi dengan mereka. Orang Swedia memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang sangat baik sehingga tidak ada kendala komunikasi sama sekali. Selain menyangkut hal akademik, Lund University juga memiliki kehidupan mahasiswa yang sangat aktif. Ada banyak sekali organisasi mahasiswa, mulai dari nations, student unions, hingga klub mahasiswa dengan aktivitas tertentu. Jadi, tidak hanya melulu tentang kuliah. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Work-life balance is such an essential value here in Sweden!<\/span><\/i><\/p>\n<figure id=\"attachment_6835\" aria-describedby=\"caption-attachment-6835\" style=\"width: 4608px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6835 size-full\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20190822_101443-e1573558956909.jpg\" alt=\"\" width=\"4608\" height=\"3456\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6835\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 4.Kami disambut oleh koordinator Program FIPDes di Lund University saat introduction week<\/figcaption><\/figure>\n<figure id=\"attachment_6837\" aria-describedby=\"caption-attachment-6837\" style=\"width: 4608px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6837 size-full\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20190921_1323030.jpg\" alt=\"\" width=\"4608\" height=\"3456\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20190921_1323030.jpg 4608w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/20190921_1323030-768x576.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 4608px) 100vw, 4608px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6837\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 5. Kegiatan marathon yang diselenggarakan oleh AF Bostader<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah merasakan bedanya kuliah di Prancis, Irlandia, dan Swedia, favorite saya jatuh kepada Swedia. Bukan hanya karena sistem pendidikannya yang saya rasa terbaik, namun juga budaya yang dimiliki oleh masyarakat Swedia membuat belajar dan hidup disini terasa nyaman dan menyenangkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<blockquote><p><strong>Nalaputi Basoeki<\/strong><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">MSc. Food Innovation and Product Design (FIPDes)<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Lund University<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p>Editor: Ria Ratna Sari<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai mahasiswi Erasmus Mundus Joint Master Degree (EMJMD) program, saya mendapatkan privilege untuk merasakan tinggal dan belajar di beberapa negara Eropa selama masa studi saya. Program ini mengharuskan saya untuk&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6835,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-6832","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"views":368,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6832"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6832"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6832\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6986,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6832\/revisions\/6986"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6835"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}