{"id":7768,"date":"2022-03-31T15:31:56","date_gmt":"2022-03-31T13:31:56","guid":{"rendered":"https:\/\/ppiswedia.com\/masakini\/?p=7768"},"modified":"2023-12-04T22:54:02","modified_gmt":"2023-12-04T21:54:02","slug":"benefits-of-learning-swedish-in-your-daily-life","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/benefits-of-learning-swedish-in-your-daily-life\/","title":{"rendered":"Benefits of learning Swedish in your daily life"},"content":{"rendered":"\n<p>Swedia &#8211; nama negara yang kalau disebut akan dapat beberapa respons umum dari orang banyak: \u201cOh, Swiss..\u201d (respon dari mayoritas orang) dan \u201cSwedia? Wah berarti semua orangnya bisa <em>ngomong <\/em>bahasa Inggris dong ya\u201d (jawaban dari orang yang sudah tahu beberapa info dari negara itu). Meski keduanya cukup akurat, tapi melalui blog ini saya berusaha menanggapi konsepsi yang ada ini dari sudut pandang yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai permulaan, semua cerita yang akan dijelaskan ini berdasarkan pengalaman pribadi dari saya, yang per Februari 2022, sudah (atau baru) tinggal di Swedia sekitar enam bulan lamanya. Butuh diingat kalau <em>neighbourhood<\/em> dari tempat dimana kita tinggal sangat berpengaruh dengan valid tidaknya kesimpulan dari cerita saya ini. Karena pada saat tulisan ini dibuat saya menempuh studi di kota Stockholm, tulisan ini cukup spesifik menceritakan hal-hal yang dialami di ibu kota Swedia yang harapannya bisa mencerminkan pengalaman di kota-kota lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tidak semua penduduk Swedia bisa berbahasa Inggris?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun menurut Sweden Statistics (2021), mayoritas (89%) dari penduduk Swedia bisa berbahasa Inggris, nyatanya tidak jarang ditemui orang-orang di kota besar seperti Stockholm yang mengalami kesulitan berkomunikasi menggunakan <em>English<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ada beberapa fakta penting juga yang perlu kita tahu tentang Swedia. Salah satunya adalah Swedia termasuk salah satu dari negara-negara yang banyak menerima imigran ke dalam negaranya dengan rata-rata 110 ribu orang bermigrasi ke Swedia per tahunnya. Sayangnya, banyak dari orang-orang tersebut yang tidak terlalu fasih atau tidak bisa sama sekali berbahasa Inggris karena belum mendapatkan <em>basic English <\/em>dari negara asalnya. Sehingga mereka sering mengalami masalah dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang bertanya kepada mereka menggunakan bahasa Inggris, dan hanya menggunakan salah satu dari bahasa Swedia, bahasa dari negara asal mereka atau menggunakan bahasa tubuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Fakta unik lainnya tentang Swedia adalah mengenai umur rata-rata penduduknya. Umur rata-rata penduduk Swedia bisa terbilang cukup tua (41,1 tahun, 2022) dibandingkan negara-negara lain seperti Amerika Serikat (38,1 tahun, 2019) dan Indonesia (29,7 tahun, 2022). Dari demografi umur, persentase orang yang berumur diatas 50 tahun keatas di Swedia lumayan banyak dibandingkan negara-negara lainnya. Walaupun pemahaman penduduk Swedia terhadap bahasa Inggris lumayan baik, cukup banyak warga lokal yang sudah berumur yang hanya bisa berbicara menggunakan Svenska. Walaupun pada akhirnya, sebagian dari mereka mengerti apa yang kita coba sampaikan, namun banyak yang merasa kesulitan untuk membentuk kalimat utuh dalam bahasa Inggris untuk menanggapi pembicaraan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh5.googleusercontent.com\/6kLgaC7zJnHJkHPgrL5px-lA2ABqncXB1DlDJVVhUwUJztPNB_7uXcmAsM59vd66UqsVwpX7O7QAEkBeuKIGmcoosVSBtufRs-5G5z9RkpqgT1OZOvbxI3-WLRB2GeGCEs4ZpH9v\" alt=\"\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Gambar 1. Rataan kemampuan berbahasa Inggris beberapa negara (Sumber: EF EPI Report 2021)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Ups and Downs while Learning Svenska<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Secara singkat, saya merasa belajar Svenska adalah hal yang penting namun tidak wajib. Hari pertama saya berada di Swedia membuat saya cukup sadar akan pentingnya kemampuan berbahasa lokal dalam kehidupan sehari-hari. Setibanya di Swedia, saya cukup beruntung karena perjalanan pertama saya dibantu oleh pihak kampus yang mengantarkan saya ke kampus dari bandara. Tidak lama setelahnya, mengingat <em>accommodation <\/em>saya yang jaraknya 16 km dari kampus, mau tidak mau saya melakukan <em>trip <\/em>pertama saya menggunakan transportasi umum (Tunnelbana) menuju lokasi tersebut . Walaupun ranah ilmu yang saya pelajari adalah transportasi, pemberitahuan di dalam T-bana yang hanya tersedia dalam bahasa Swedia cukup untuk membuat saya bingung dan mempertanyakan kemampuan saya dalam bidang tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak lama setelahnya, kemampuan berbahasa Swedia saya lagi-lagi diuji dengan datang ke <em>grocery store <\/em>terdekat. Barang-barang yang ada di <em>display <\/em>hanya dilengkapi keterangan dalam Svenska sehingga saya cuma bisa menebak-nebak setiap produk yang saya lihat, berharap sama dengan yang pernah saya lihat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Karyawan yang ada di sekitar pada saat itu juga memiliki keterbatasan dalam memahami bahasa Inggris sehingga untuk mengetahui produk yang kita mau dibutuhkan cara lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Penggunaan aplikasi seperti Google Translate sangat membantu kita untuk tahu produk-produk yang ditawarkan <em>grocery store <\/em>apalagi ketika tidak ada orang di sekitar untuk ditanyai. Meski begitu, aplikasi secanggih Google Translate juga punya batasan dalam kemampuan menerjemahkan beberapa kata. Hal inilah yang membuat saya berpikir kalau pemahaman terhadap Svenska sangat dibutuhkan dalam rutinitas sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh4.googleusercontent.com\/oMLpzqP66xVrSM2b-jL7L9u_MwYtuz1VEZ-pnKVBLEF4f71FUCJDuQzSjyvIj_X2tw1se0naAn4zwZj0tP62CLRKuOu3X0e3GeZXho965AGEmtmcLDmCFqRm3LQO57nv-aP9EM02\" alt=\"\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Gambar 2. <em>Google Translate <\/em>menerjemahkan \u201cMellanmj\u00f6lk\u201d menjadi <em>Between Milk<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Belajar berbahasa Swedia itu sesuatu yang unik buat orang-orang seperti saya yang hanya mengetahui bahasa Indonesia, Inggris dan sedikit bahasa daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari segi alfabet saja sudah ada banyak perbedaan dengan alfabet yang kita gunakan di bahasa Indonesia atau Inggris. Belum lagi, ada beberapa gabungan beberapa huruf di Svenska yang dilafalkan jauh berbeda dari yang kita kira (\u2018Sj\u2019 dan \u2018sk\u2019 dalam kata \u201csjuksk\u00f6terska\u201d yang berarti perawat). Walaupun terdapat beberapa kemiripan dengan <em>English <\/em>untuk beberapa katanya namun mendalami dan benar-benar paham Svenska butuh waktu yang terbilang lama.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kadang-kadang, ada saatnya kita sudah cukup percaya diri untuk menanggapi perkataan atau bahkan memulai pembicaraan dengan <em>Swedish<\/em>. Tetapi, sering juga orang-orang membalas dengan <em>English <\/em>ketika mereka sadar kalau 1) kita sedang belajar <em>Svenska <\/em>yang cukup terlihat dari pelafalan yang belum sempurna; untuk menghindari miskomunikasi, direspons dengan menggunakan <em>Swedish<\/em>. 2) kita terlihat kebingungan dalam menanggapi jawaban orang yang berbicara menggunakan <em>Swedish <\/em>dengan kita. Mengingat tingkat literasi penduduk Swedia yang cukup tinggi terhadap <em>English, <\/em>banyak orang yang merasa belajar bahasa Swedia bukan sebagai suatu keharusan karena tidak sekrusial itu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDimana bumi dipijak disitu langit dijunjung\u201d mungkin adalah peribahasa yang tidak asing terdengar di telinga kita. Peribahasa itu juga bisa dijadikan motivasi buat mempelajari budaya Swedia lebih dalam. Sama seperti keinginan kita untuk melestarikan budaya yang sangat kita cintai yaitu <em>Lagom<\/em>, berbicara dengan menggunakan bahasa Swedia adalah bentuk lain dari pengakuan kita terhadap budaya yang dipertahankan oleh masyarakat Swedia. Karena hampir semua penduduk Swedia menggunakan Svenska sebagai bahasa sehari-harinya, berteman secara akrab dengan orang-orang Swedia menjadi jauh lebih mudah buat kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Manfaat lain yang tak kalah pentingnya adalah kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di Swedia terbuka sangat lebar untuk orang yang memiliki kemampuan berbahasa Swedia . Pekerjaan dalam konteks ini tidak terbatas dari segi profesional saja melainkan <em>part-time job <\/em>yang berada di luar ranah yang sedang kita tekuni. Hampir setiap lowongan pekerjaan yang ada di Swedia mengharuskan pendaftar memiliki kemampuan berbahasa Swedia. Walaupun untuk sebagian pekerjaan semua agenda kantor dijalankan dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, Svenska tetap penting karena digunakan untuk bersosialisasi dengan kolega kantor. Bisa dibilang, kita bisa sangat menghemat waktu yang dibutuhkan sampai kita mendapatkan pekerjaan dengan hanya memiliki kemampuan berbahasa lokal.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>How should I start then?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Semua berawal dari niat yang sungguh-sungguh dan motivasi yang jelas kenapa harus mempelajari bahasa ini. Media pembelajaran yang bisa kita gunakan juga sangat beragam, mulai dari mengembangkan kemampuan secara teori atau latihan berbicara dan menggunakan Svenska secara lebih praktikal.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Buku Rivstart adalah satu dari banyak cara untuk mengasah kemampuan kita menggunakan <em>swedish language<\/em>. Selain karena buku ini adalah buku teks yang digunakan untuk kursus SFI (<em>Swedish for Immigrants<\/em>), buku ini juga jadi favorit banyak <em>learners <\/em>karena dilengkapi audio dan juga disusun oleh kurikulum yang teratur. Buku teks lain yang bisa jadi alternatif adalah <em>Complete Swedish <\/em>yang merupakan produksi dari<em> Teach Yourself. <\/em>Dengan penyajian yang terbilang mirip dengan Rivstart, buku ini banyak dipunyai orang yang lebih nyaman membaca versi digital dari buku teks. Aplikasi belajar bahasa seperti Duolingo juga bisa dijadikan alternatif karena penyajian materinya yang interaktif dan menarik buat pelajar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/-Vq42YFzt1tYHpLgLR6eu7zPb6Y3YazN-vx_lIr92V2tSlmD-VOMY1mDv6Y3bF9-3hiOwovOTIkmJgITucZIWVjeaNE7B-lCBTPc4W0fUfYzftz3XhCJ_TinTjwBk1b1OL8eoAKq\" alt=\"\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Gambar 3. <em>Text Book <\/em>Rivstart B1+B2<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Satu metode yang lumayan dianggap efektif oleh pelajar yang ingin menguasai <em>Swedish language <\/em>adalah dengan mengikuti kelas rutin. Kelas rutin yang dimaksud bisa jadi disediakan oleh kampus (https:\/\/www.kth.se\/student\/kurser\/kurs\/LS1502?l=en)<em> <\/em>atau mengikuti kelas yang tidak termasuk dalam kredit alias disediakan di luar kampus seperti SFI. Seperti yang disebut sebelumnya, SFI ditujukan untuk orang-orang yang bukan berbahasa utama Svenska dan ingin mempelajari bahasa Swedia. Pendaftarannya umumnya dilakukan dari laman web yang disediakan oleh <em>kommun<\/em> atau distrik masing-masing (https:\/\/vuxenutbildning.stockholm\/en\/swedish-for-immigrants\/swedish-for-immigrants\/register-for-sfi\/).<\/p>\n\n\n\n<p>Belajar menggunakan bahasa Swedia juga bisa dilakukan dalam kegiatan yang kita jalani sehari-hari. Kesempatan untuk belajar berbahasa Swedia bisa dimulai dari hal yang secara rutin kita lakukan yaitu membeli kebutuhan sehari-hari atau <em>grocery shopping<\/em>. Buat yang rutin berinteraksi dengan kasir untuk membayar barang yang sudah dibeli, frasa \u201c\u00c4r det bra s\u00e5?\u201d pasti tidak asing terdengar di telinga kita. Walaupun untuk hal ini jawaban yang dibutuhkan tidak panjang, kita tetap bisa mencoba untuk merespons dengan menggunakan Svenska sekadar untuk membiasakan diri dengan pelafalan dan intonasi yang benar.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahasa Swedia juga bisa digunakan untuk berinteraksi di platform <em>Facebook Marketplace. Facebook Marketplace <\/em>adalah satu dari sekian platform dimana banyak terdapat barang <em>second-hand <\/em>yang dijual dengan harga yang menarik atau bahkan diberi secara cuma-cuma. Tetapi, dalam beberapa kesempatan, saya bertemu dengan penjual yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris sehingga kemampuan <em>Swedish <\/em>saya yang cuma pas-pasan ini menjadi penyelamat transaksi barang yang saya inginkan. Kalau kita sangat beruntung, ketika berinteraksi dengan penjual dengan menggunakan Svenska, kita menjadi lebih \u201cnyambung\u201d dengan sang penjual dan lebih memiliki <em>\u201cpower\u201d <\/em>untuk menawar barang yang kita mau. Berdasarkan pengalaman, saya berhasil menawar barang yang saya mau sampai 25% dari harga awalnya hanya dengan terlibat di pembicaraan dengan menyesuaikan bahasa. Walaupun peluang terjadinya cukup kecil, tidak ada salahnya mencoba dan berharap kejadian seperti ini terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Berteman dengan teman-teman <em>Swedish <\/em>juga bisa dijadikan cara untuk berlatih menggunakan bahasa Swedia dengan lebih leluasa dan bebas tekanan. Keramahan orang-orang Swedia bisa benar-benar membantu kita untuk memperbaiki kemampuan berbicara dan mendengar ketika kita menggunakan Svenska.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai penutup, belajar bahasa baru memang suatu proses yang butuh waktu, fokus, dan tenaga dalam keberlangsungannya. Namun, manfaat kalau mempelajarinya bisa jauh melebihi sumber daya yang dihabiskan dalam prosesnya. Karenanya, yuk bentuk niat dan cari motivasi untuk mulai belajar bahasa baru. <\/p>\n\n\n\n<p>Lycka till och Hej d\u00e5!<\/p>\n\n\n\n<p>Those are fun facts about Lund that you probably did not know before. There are actually many things that I do not cover in this blog about the other fun facts about Lund. So, I urge you to come to Lund to tell others the other things and facts you will learn from Lund. Perhaps, some of you want to add some fun facts? Just let the others know by filling in the comment sections below and sharing this blog!<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><strong>Mulia Andreas Pasaribu<br>Transport, Mobility, and Innovation (EIT Urban Mobility)<br>KTH Royal Institute of Technology<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Editor : Putu Christ Wirawan<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Screenshot-2021-09-27-at-14.26.00.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7652\" width=\"835\" height=\"173\" srcset=\"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Screenshot-2021-09-27-at-14.26.00.png 1892w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Screenshot-2021-09-27-at-14.26.00-768x159.png 768w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Screenshot-2021-09-27-at-14.26.00-1536x318.png 1536w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Screenshot-2021-09-27-at-14.26.00-300x62.png 300w, https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Screenshot-2021-09-27-at-14.26.00-850x176.png 850w\" sizes=\"(max-width: 835px) 100vw, 835px\" \/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Swedia &#8211; nama negara yang kalau disebut akan dapat beberapa respons umum dari orang banyak: \u201cOh, Swiss..\u201d (respon dari mayoritas orang) dan \u201cSwedia? Wah berarti semua orangnya bisa ngomong bahasa&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[3,7,11,13,1],"tags":[382,384,381,380,124],"class_list":["post-7768","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kegiatan","category-mahasiswa","category-tentang-swedia","category-tips","category-uncategorized","tag-bahasa","tag-daily-life","tag-kehidupan-mahasiswa","tag-language","tag-sweden"],"views":631,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7768"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7768"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7768\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8186,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7768\/revisions\/8186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7768"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7768"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppiswedia.org\/masakini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7768"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}